Abraham Maslow dan Aliran Humanistik
Sebagai suatu gerakan formal, psikologi humanistik dimulai di Amerika Serikat dan Eropa pada tahun 1950-an, dan terus-menerus tumbuh, baik dalam jumlah pengikut maupun dalam lingkup pengaruhnya. Psikologi humanistik lahir dari ketidakpuasan terhadap jalan yang ditempuh oleh psikologi pada awal abad ke-20 Ketidakpuasan itu terutama tertuju pada gambaran manusia yang dibentuk oleh psikologi modern, suatu gambaran yang partial, tidak lengkap dan satu sisi. Para tokohnya merasa bahwa psikologi, terutama psikologi behavioristik menjadi ”mendehumanisasi” yakni meskipun menunjukkan keberhasilan yang spektakuler dalam area-area tertentu, gagal untuk memberikan sumbangan yang besar kepada pemahaman manusia dan kondisi eksistensialnya. Dalam kenyataannya, psikologi behavioristik itu telah merampok esensi manusia.
Pada tahun 1958, Abraham H. Maslow memberikan nama ”kekuatan ketiga” kepada psikologi humanistik. Maslow disebut sebagai pendiri psikologi humanistik, meskipun ia sendiri mengatakan bahwa psikologi humanistik adalah ”hasil karya banyak orang” dan ”tidak ada nama besar seseorang yang bisa digunakan untuk mengkarakterisasinya”.
Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tahun 1908 dan wafat pada tahun 1970 dalam usia 62 tahun. Untuk menyenangkan kemauan ayahnya, Maslow sempat belajar di bidang Hukum tetapi kemudian tidak dilanjutkannya. Ia akhirnya mengambil bidang studi psikologi di University of Wisconsin, dimana ia memperoleh gelar Bachelor tahun 1930, Master tahun 1931, dan Ph.D pada tahun 1934. Di sana pulalah ia bertemu J.B Watson dan tertarik pada behaviorisme. Pada waktu itu, ia menjadi salah satu pengikut setia J.B Watson. Pandangannya terhadap behaviorisme menjadi berubah semenjak kelahiran anak pertamanya. Ia merasa kecewa karena behaviorisme tidak mampu menjelaskan “misteri” lahirnya seorang anak ke dunia. Maslow kembali ke New York dan menjadi professor psikologi di Brooklyn College.Karya Maslow bukanlah penolakan secara mentah-mentah terhadap karya Freud, Watson maupun behavioris lainnya. Karyanya lebih merupakan suatu usaha menelaah segi-segi yang bermanfaat yang dapat diterapkan bagi kemanusiaan pada kedua psikologis tersebut,lantas dari sanalah ia bertolak. Ia keberatan terhadap teori Freud yang menitikberatkan pada penyelidikan tentang orang-orang neurosis dan psikosis, juga kepada anggapan bahwa semua bentuk tingkah laku luhur adalah hasil belajar, bukan sesuatu yang kodrati pada manusia. Maslow berpendapat bahwa manusia memiliki karakteristik yang unik yang memiliki kebutuhan, kemampuan dan kecenderungan yang sifat dasarnya genetik. Personaliti yang dibincangkan oleh Maslow lebih kepada keperluan individu. Maslow sering mengaitkan perkembangan personaliti dengan motivasi. Motivasi lahir dari keperluan yang diperolehi oleh setiap individu. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan).
Pendekatan humanistik berfokus pada manusia yang sehat, kreatif, dan mampu mengaktualisasikan dirinya. Apa yang baik adalah semua yang memajukan aktualisasi diri, dan yang buruk/abnormal adalah segala hal yang menggagalkan, menghambat, atau menolak kemanusiaan sebagai hakekat alami. Humanisme memandang kepribadian sebagai suatu kesatuan (holisme) yang utuh, bukan sebagai sesuatu yang terpisahkan. Jiwa dan tubuh bukan suatu komponen/bagian yang terpisahkan. Keduanya merupakan satu kesatuan-apa yang terjadi pada satu bagian akan mempengaruhi bagian yang lain.
Psikologi humanistik adalah suatu gerakan perlawanan terhadap psikologi yang dominan yang mekanistik, reduksionistik, atau ’psikologi robot” yang mereduksi manusia. Psikologi humanistik juga menentang metodologi yang restriktif yang menyisihkan pengalaman batin. Psikologi humanistik menghimpun para ahli psikologi yang merepresentasikan pandangan-pandangan dan kecenderungan yang berbeda, juga para ahli psikologi yang hanya menyetujui penolakan terhadap psikologi yang mekanomorfik dan yang menyetujui penamaan humanistik berdasarkan pemilihan konsep tentang manusia sebagai makhluk yang kreatif yang dikendalikan bukan oleh kekuatan dari luar maupun oleh kekuatan tak sadar, melainkan oleh nilai-nilai dan pilihan-pilihannya sendiri.
semoga bermanfaat ya temen-temen semua,,
selalu semangat dan bersemangat........
M.AMIRUDIN
Sekolah Tinggi Psikologi Yogyakarta(STiPsi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar